Ingat saat terakhir pertemuan qta?
Kita sama2 memutuskan untuk berjalan di jalan kita masing2, tanpa menoleh lagi ke belakang, ke arah salah satu dari qta..
Sekarang?
Secara nyata kamu ga melihatku dengan cara menoleh ke belakang, tapi? Menggunakan spion agar tidak terlihat oleh dia, yg kau yakini bisa membahagiakanmu dulu.
Hei kamu,
Qta memang bahagia, dulu.. Sebelum semua jadi brutal dan kamu memilih diam dan menangis di kamarmu sendri tanpa aku, kamu memilih menjalani lagi cinta yang kau anggap berhasil tanpa aku, dengan langkah berat dan nafas lelah.
Alasanmu sederhana, hanya karena "sudah terlanjur hubungan itu berjalan lama" , menahan semua ketidak nyamananmu dengan cara mengalihkan kesendirianmu, bukan cara yang tepat kukira, kamu mungkin ga akan pernah mendalami konsep "pacaran itu bukan di liat dari lamanya kalian bersama, tapi seberapa nyaman saat kamu bersamanya, dan
bagaimana kamu jadi dirimu sendiri saat bersamanya."
Kamu memilih diam, menahan sakit saat ia mulai menyinggung aku, dan kita. Menutupi apa yang ada, memilih menjadi pengecut, bukan hal yg harusnya di lakukan oleh lelaki sepertimu.
Maaf, sekarang, aku punya lelaki jantan yang mengakuiku di manapun ia berada, menyayangiku sepenuh hati dan mencintaiku apa adanya. Sesosok lelaki yang bisa menjadi kawan, kekasih ataupun kuyakini bisa menjadi ayah yang baik untuk anak2ku nanti.
Hei kamu,
Maaf, aku bertanggung jawab menyemangatinya setiap hari, dan aq berkewajiban mencintainya dan membuangmu dari hidupku, karena cinta, perhatian, dan semangatnya tak pernah terbagi untuk wanita lain, maka dari itu, aq sangat bertanggung jawab penuh untuk selalu menjadi miliknya utuh.
Hei kamu,
Sesali keputusanmu, dan bersedialah menjadi sama seperti kematian, ya, kematian.. Yang sabar menunggu dalam kesunyian hingga saatnya tiba.
Salam hangat,
Aku yang dulu menangisimu, dan kini mentertawaimu :)
No comments:
Post a Comment